Cerita Dikit *mengapa seseorang mau menjadi pastor?

Pagi itu cerah sekali, saat Romo Sudrijanto menyapa umat dalam kotbah Misa Ekaristi Kudus dengan �Selamat Pagi�. Umat pun membalas dengan antusias. Terkait dengan Minggu Panggilan, hari itu Romo bercerita tentang seorang murid SMA Kanisius yang ketika ditanya apakah dia mau jadi Pastor. Jawabannya tidak mau. Namun ketika ditanya mau jadi apa, jawabannya sungguh mencengangkan. Dia mau jadi �orang suci�.

Rupanya persepsi anak tersebut tentang Pastor dan tentang Orang Suci, sangat berbeda. Dalam persepsinya seorang Pastor tidak secara otomatis menjadi orang suci. Dan untuk menjadi orang suci, tidak harus melalui jalur Pastor. Barangkali ada jalur yang lain menurutnya lebih bisa mewadahi keinginannya. Apapun yang menjadi pilihannya, anak ini boleh jadi mewakili sebagian dari anak muda sekarang.

Meskipun mungkin hanya segelintir yang memiliki persepsi serupa dengan anak tersebut, namun harus diakui bahwa fenomena ini ada, dan perlu diamati, dicermati dan dilihat sebagai sesuatu yang penting bagi perkembangan iman umat Katolik khususnya perkembangan panggilan menjadi Imam atau Biarawan/Biarawati di gereja Katolik.

Bisa Diprogram
Dalam teori Kekuatan Pikiran (Brain Power), dinyatakan bahwa peranan pikiran bawah sadar (subconscious mind) cukup signifikan bagi perkembangan seseorang. Seseorang yang sejak kecil diperlakukan dengan kasar akan menjadi pribadi yang kasar perilakunya. Seseorang yang sejak kecil ditekan dan dipojokkan, akan menjadi pribadi yang tidak percaya diri, ketakutan dan rendah diri.

Sebaliknya, ketika seorang anak diperlakukan dengan penuh cinta kasih, penuh perhatian, dipenuhi kebutuhan spiritualnya, serta kebutuhannya akan perhatian orang tua, maka dia akan tumbuh menjadi pribadi yang kuat, yang penuh empati, yang penuh kasih, mandiri dan percaya diri. Semuanya bermula dari pikiran bawah sadarnya. Kita semua tahu, bahwa tindakan seseorang dipengaruhi oleh 12% pikiran sadar dan 88% pikiran bawah sadar. Karena itu, ketika pikiran bawah sadarnya terisi oleh hal-hal yang negative, maka tindakannya pun cenderung negative. Demikian sebaliknya. Hal ini kita sebut sebagai GIGO � Garbage In Garbage Out. Tugas orangtualah yang harus mengubah bahan yang masuk menjadi hanya Gold saja, supaya keluarnya nanti juga Gold (Gold In Gold Out).

Ketika seorang anak dibisiki terus menerus pada waktu tertentu, agar dia nanti menjadi seorang Pastor, maka pikiran bawah sadarnya menjadi penuh oleh pernyataan bahwa �aku harus menjadi seorang Pastor�. Pada waktu tertentu yang dimaksud dalam kalimat di atas adalah ketika pikiran anak tersebut berada pada gelombang alpha, yaitu pada frekuensi 3,5 sampai 14 Herz. Frekuensi bawah sadar. Frekuensi pikiran akan mencapai serendah ini, pada saat yang bersangkutan menjelang tidur � sebelum terlelap � sampai tertidur pulas. Pada saat itulah kita bisa memrogram pikiran bawah sadar anak kita agar menjadi seseorang yang kita kehendaki. Pastor misalnya.

Dukungan Orang Tua
Untuk memrogram seorang anak sehingga kelak menjadi Pastor sudah dijelaskan di atas, masalahnya adalah apakah orang tua rela, kalau kelak anaknya menjadi Pastor atau biarawan biarawati? Dari survey yang dilakukan Seksi Penelitian pada tahun 2007 di Paroki Santa Anna Duren Sawit ini, ternyata ada 65,53% responden yang menyatakan �Tidak Keberatan� kalau anak mereka suatu saat menjadi biarawan/biarawati. Hanya 5,93% menyatakan secara tegas �Keberatan�. Ini menunjukkan bahwa sebenarnya umat, khususnya orangtua ingin memersembahkan atau sedikitnya mendukung bila putra-putrinya berniat menjadi biarawan/wati kelak. Hal yang sangat positif bagi Gereja. Dan ketika kuesioner dalam survey yang sama dibalik menjadi pernyataan negasi, hasilnya tetap positif, yaitu 50,05% tidak sependapat dan hanya 15,15% yang sependapat dengan pernyataan bahwa �anak yang ingin menjadi biarawan/biarawati biasanya dilarang oleh orang tuanya�.

Dengan fenomena di atas sebenarnya seksi panggilan di Dewan Paroki bisa lebih mudah bekerja, karena tidak terhambat oleh orangtua, bahkan banyak orangtua akan mendukung bila putra-putrinya berniat menjadi Pastor, Bruder atau Suster. Benarkah demikian Bapak Ibu? Salam bahagia. SKR

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s